Petrus Saldena, “Human Trafficking Sama Seperti Migrasi Orang”

Petrus Saldena, “Human Trafficking Sama Seperti Migrasi Orang”

SOE, TEROPONG ALOR – MARAKNYA kasus human trafficking (perdagangan manusia) yang terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tentunya dapat menyita perhatian semua pihak. Buktinya, berbagai aksi penolakan humman trafficking selalu saja dilakukan pihak pemerhati di daerah. Salah satunya, organisasi kemahasiswaan Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Kupang melalui perwakilan Forum Mahasiswa Peduli Kemanusiaan melakukan aksi unjuk rasa di Desa Ainiu Kecamatan Insana Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Jumad, (30/9/16).

Selain aksi unjuk rasa, juga dilakukan sosialisasi dengan tujuan semua pihak dapat memberikan perhatian yang lebih serius terkait persoalan kejahatan kemanusiaan tersebut. Aksi itu diikuti juga gabungan mahasiswa asal Kemah Kerja Mahasiswa (KKM) Fakultas Keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (UNDANA) Kupang.

Koordinator Departemen Politik dan Propaganda FMN , Petrus Saldena mengatakan, berbicara mengenai human trafficking sama seperti kita sedang berbicara mengenai migrasi orang. Dengan demikian, migrasi ini sudah terjadi sejak kedatangan bangsa munkamer di era 2000-3000 sebelum masehi. Menurut Etus Saldena, akibat dari penguasan lahan maka dengan otomatis migrasi orang keluar negeri yang terjadi sekarang ini.  “Ini bukan karena keinginan masyrakat, tetapi karena tuntutan hidup dalam hal pemenuhan kebutuhan makan, minum, pakai, pendidikan dan kesehatan,” katanya.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) FMN Annarius Laba mengatakan, dilihat dari letak geografis dan keterbatasn akses informasi, pendidikan di NTT sudah sepatutnya pemuda dan mahasiswa dapat menjadi alat perjuangan untuk masyarakat. Hal itu agar dapat mengetahui bagaimana prosedur mulai dari perekrutan, pengiraman, dan penempatan yang aman bagi BMI dan seperti apa tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dengan modus-modus yang di lakukan oleh para pelaku human trafficking.

Hal yang sama juga di sampaikan Ketua Panitia KKM FKIP UNDANA Yaferson Atamau dalam materi sosialisasinya. Dia menjelaskan, tujuan diadakannya sosialisasi ini merupakan sebuah pengabdian dari mahasiswa kepada masyrakat. “Saya ibaratkan mahasiswa dan masyarakat adalah satu kesatuan yang bagaikan menara gading yang tak terpisahkan. Maka dari itu, sudah sepatutnya mahasiswa sebagai kaum termaju secara praktek dan terori dapat berbicara dan mengatasi persoalan yang di hadapi oleh masyarakat khusnya di NTT dan pada umumnya Indonesia, karena disitulah letak kualiats pendidikan itu dapat di ukur,” tandas Atamau. (Joka/Leader)