Pantai Mali kini tinggal kenangan

Pantai Mali kini tinggal kenangan

Kalabahi-TA: Jika ke Bandar Udara (Bandara) Mali, coba kita tengok ke arah pantai wisata. Disana ada kolam renang yang dibangun Dinas Pariwisata Kabupaten Alor tahun 2006. Kini kolam renang tersebut mubazir, salah siapa?

Berjarak kurang lebih 11 kilo meter dari Kota Kalabahi ke arah timur laut. Untuk mencapainya pengunjung dapat menggunakan kenderaan mikrolet, mini bus atau jasa ojek dari Kalabahi dengan waktu tempuh kurang lebih 20 menit. Walaupun bersebelahan dengan Pantai Maimol, namun karakteristik fisiknya jauh berbeda.

Pantai Wisata Mali merupakan pantai berpasir putih dan pohon-pohon kelapa sekelilingnya, juga menjadi obyek wisata yang menarik. Taman wisata Mali disediakan oleh pemerintah bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berekreasi. Taman wisata ini telah dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya seperti taman bermain untuk anak-anak, rumah-rumah payung, panggung hiburan serta kolam renang yang dilengkapi dengan MCK dan ruang ganti.

Pantai Mali biasanya banyak dipenuhi oleh pengunjung pada hari Minggu atau pada hari-hari libur lainnya. Pantai ini menjadi pilihan warga Kota Kalabahi untuk melepas penat setelah bekerja 6 hari. Deburan ombak pasir putih mampu menghanyutkan setiap lamunan tatkala angin sepoi berhembus menyapu setiap wajah, apalagi sambil menyaksikan para pengunjung yang berenang di lautan. Tapi itu cerita dulu. Kini kolam renang itu tak berfungsi alias mubazir.

Hasil penulusuran wartawan ke Pantai Mali Sabtu, (28/5/16), lumut hijau sudah menyilimuti setiap dinding kolam tersebut, hingga saat ini belum ada tanda-tanda dari pemerintah untuk merehabilitasi kolam tersebut. Jika dibiarkan terus maka kemungkinan besar dinding kolam akan pecah. Itu berarti sia-sialah pemerintah membangun sarana yang bernilai jutaan rupiah. Sementara disisi lain, kemiskinan dan pengangguran terbuka masih sangat tinggi.

Dengan mubazirnya kolam tersebut, maka semakin melengkapi daftar hitam proyek bermasalah di Kabupaten Alor. Kondisi mubazirnya obyek wisata ini, sangat jauh berbeda dengan promosi budaya yang dilakukan secara terus menerus oleh pemerintah daerah.

Salah satu pengunjung bernama Dedy mengakui, Pantai Wisata Mali jarang dikunjungi para pengunjung. Dia menyatakan, dengan mubazirnya sejumlah fasilitas penunjang yang dibangun dengan dana jutaan rupiah, Pantai Mali kini terkesan tinggal kenangan.

Pengunjung lain bernama Siti menyatakan, Alor dikenal dunia luar karena pariwisata. Dia menyebutkan, komitmen pemerintah untuk memperkenalkan diri melalui berbagai event baik berskala regional, nasional dan internasional terus menerus dilakukan, namun tidak seimbang dengan mubazirnya sejumlah obyek wisata di Kabupaten Alor. “Saya harap pemerintah harus serius melihat kembali serta memperbaiki obyek-obyek wisata di Alor. Dengan demikian bisa dikunjungi para pengunjung,” katanya. (joka)