Butuh Kelonggaran Perdagangan Alor – Timor Leste

Butuh Kelonggaran Perdagangan Alor – Timor Leste

TA – MARITAING: Warga Maritaing, Kabupaten Alor, berharap ada fleksibilitas dalam lalu-lintas barang antara Alor dengan Timor Leste. “Kalau kami jual singkong boleh. Tapi jual ikan dilarang,” ujar nelayan Maritaing bernama Markus kepada TEROPONG ALOR, Kamis (14/04).

Maksudnya, petani atau nelayan di Maritaing yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, tidak bisa menjual sembarang barang ke Dili, Timor Leste.

Antara Maritaing dengan Dili dibatasi Selat Ombai. Waktu tempuh dengan perahu motor sekitar dua jam. Di Pelabuhan Maritaing dijaga pasukan TNI, karena berbatasan langsung dengan Timor Leste.

“Kalau kami bawa singkong, ubi, untuk dijual ke Dili, boleh. Tapi kami bawa ikan dilarang,” kata Markus.

Padahal, harga ikan di Dili jauh lebih tinggi dibanding di Alor. Sebagai gambaran, ikan Tembang yang biasa ditangkap nelayan Alor. Harga di Alor Rp 12.000 per kantong plastik, isi sekitar setengah kilogram. Sedangkan di Dili USD 2 (sekitar Rp 26.280 dengan kurs Rp 13.140 per USD hari ini).

Ikan Tembang adalah ikan kecil sebesar dua jari orang dewasa. “Untuk ikan besar, harganya lebih tinggi lagi. Beda harganya semakin jauh dengan harga di Alor,” ujar Markus.

Warga Maritaing berharap, ada kelonggaran prosedur dalam lalu-lintas barang di tapal batas itu. Tujuannya meningkatkan taraf hidup petani dan nelayan di seputaran Maritaing, Alor Timur. (dwo)